Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 27 November 2012

MENINGKATNYA RELIGIUSITAS PADA KELUARGA YANG KURANG RELIGIUS


MENINGKATNYA RELIGIUSITAS
 PADA KELUARGA YANG KURANG RELIGIUS

PSIKOLOGI AGAMA
Disusun oleh:
Suprapti Wulaningsih


A.    Pendahuluan
Peningkatan rasa agama yang dialami seseorang dalam kehidupannya di mana terjadi ketidak pedulian agama pada masa kanak-kanan dan religiusitas keluarganya yang kurang religius. Kondisi tersebut sesuai dengan teori transformasi religius dalam buku psikologi dzikir (Subandi, 2009), yang mengatakan bahwa. Pertama, perubahan afiliasi keagamaan di mana seseorang berpindah dari agama satu ke agama lain (Maedow & Kahoe, 1984; Ullman, 1989). Kedua,  peningkatan penghayatan keagamaan orang-orang yang semula tidak peduli agama atau tidak percaya dengan agama (agnostic) menjadi orang yang sangat religius. Ketiga, perubahan atau peningkatan komitmen dan keyakinan beragama dalam konteks agama yang sama (James, 1902; Byrnes, 1984; Ullman, 1988, 1989). Fenomena fransformasi ini sejajar dengan proses perkembangan religius dari kehidupan yang belum matang menuju kearah yang lebih matang.
Walaupun kasus ini menekankan pada fenomena konversi agama, khususnya konversi mistis, tetapi istilah transformasi religius tetap digunakan. Alasan utamanya adalah karena istilah transformasi religius dianggap mencakup pengalaman beragama yang lebih luas, mulai dari meningkatnya komitmen terhadap agama yang dianut, transformasi kesadaran (transformation of consciousness), dan transformasi diri (transformation of the sense of self). Pengalaman-pengalaman seperti itu sering ditemukan pada orang-orang yang menlaksanakan praktik meditasi (Maedow & Kahoe, 1984).
Istilah transformasi religius di sini didefinisikan sebagai perubahan orientasi beragama dari kehidupan beragama orang kebanyakan menuju kehidupan beragama yang bersifat mistis sebagai dampak dari suatu praktik meditasi. Dalam konteks ini, istilah kehidupan beragama orang kebanyakan mengacu pada kehidupan beragama yang pada umumnya ditemukan pada orang dewasa, yang ditandai oleh kedangkalan ritualitas dan tendensi egosentris. Sementara itu, kehidupan beragama yang bersifat mistis merupakan suatu kehidupan beragama yang disertai dengan pengalaman mistis dan hubungan personal dengan Tuhan.
Pembahasan literatur yang berhubungan dengan fenomena transformasi religius yang pertama, tentang proses perubahan kehidupan beragama yang dramatis dari kehidupan beragama orang kebanyakan ( ordinary religious life)  menuju kehidupan beragama yang mempunyai mistis ( mustical religious life). Proses perubahan bergama yang dramatis disebut dengan istilah transformasi religius (religious transformation). Peran praktik meditasi dalam proses transformasi religius dan kajian fenomena proses tranformasi religius dalam beberapa literatur akan diuraikan pada pembahasan di bawah.

B.     Teori Transformasi Religious
1.      Fenomena Transformasi Religius
Dalam psikologi agama, istilah ‘konversi agama’ mengacu pada suatu tipe perkembangan keberagamaan yang diwarnai oleh perubahan kehidupan secara dramatis, baik berkaitan dengan ideologi maupun perilaku beragama (Clark, 1958; James 1902). Perubahan tersebut dapat termanifestasikan dalam tiga hal. Pertama, perubahan afiliasi keagamaan di mana seseorang berpindah dari agama satu ke agama lain (Maedow & Kahoe, 1984; Ullman, 1989). Kedua, peningkatan penghayatan keagamaan orang-orang yang semula tidak peduli agama atau tidak percaya dengan agama (agnostic) menjadi orang yang sangat religius. Ketiga, perubahan atau peningkatan komitmen dan keyakinan beragama dalam konteks agama yang sama (James, 1902; Byrnes, 1984; Ullman, 1988, 1989). Dalam konteks agama Islam di Indonesia, model konversi agama yang ketiga ini dapat dilihat pada fenomena perubahan orang muslim abangan yang kemudian berubah menjadi ‘santri’.
Berdasarkan perubahan arah konversi agama di atas, Thouless (1936) membedakan antara ‘konversi biasa’ (ordinary conversion) dan ‘konversi mistis’ (mystical conversion). Istilah ‘konversi biasa’ digunakan untuk perubahan kehidupan beragama dari agnostik (tidak percaya Tuhan dan kehidupan setelah mati) menuju kehidupan beragama yang serius. Termasuk dalam hal itu adalah perubahan dari satu agama ke agama lain. Sementara itu, Thouless mendefinisikan ‘konversi mistis’ sebagai perubahan religius yang dramatis dari kehidupan beragama yang dilaksanakan orang pada umumnya menuju kepada kehidupan beragama yang mencakup dimensi mistis dalam konteks agama yang sama.
Klasifikasi Thouless di atas menurut saya memiliki kekurangan. Ada dua alasan yang bisa dikemukakan untuk mendukung pandangan ini. Pertama, pengalaman mistis tidak hanya dialami oleh orang-orang yang mengalami konversi mistis. Ada banyak contoh mengenai pengalaman mistis yang juga memainkan peranan yang penting bagi orang-orang yang berubah dari agnostik menuju ke kehidupan teligius. Kedua, pengalaman mistis tidak hanya terjadi secara alamiah sebagai pengalaman yang tidak diperkirakan oleh individu, tetapi pengalamn mistis dapat juga terjadi sebagai dampak dari disiplin spiritual yang khusus, misalnya meditasi atau puasa yang rutin.
Istilah transformasi religius di sini didefinisikan sebagai perubahan orientasi beragama dari kehidupan beragama orang kebanyakan menuju kehidupan beragama yang bersifat mistis sebagai dampak dari suatu praktik meditasi. Dalam konteks ini, istilah kehidupan beragama orang kebanyakan mengacu pada kehidupan beragama yang pada umumnya ditemukan pada orang dewasa, yang ditandai oleh kedangkalan ritualitas dan tendensi egosentris. Sementara itu, kehidupan beragama yang bersifat mistis merupakan suatu kehidupan beragama yang disertai dengan pengalaman mistis dan hubungan personal dengan Tuhan.
2.      Meditasi dan Transformasi Religius
Sejak abad ke-20 yang lalu, praktik meditasi telah mendapat perhatian luar biasa dari masyarakat Barat. Esensi praktik meditasi adalah usaha untuk mengikat kesadaran menuju satu objek yang tidak berubah dalam waktu tertentu (Ornstein, 1986). Terdapat banyak macam teknik meditasi. Bentuk paling umum dari praktik meditasi adalah meditasi auditori yang melibatkan penggunaan mantra, yaitu kata-kata atau frasa stertentu yang dianggap sakral. Dalam trasisi Islam terdapat beberapa formula yang sering digunakan untuk mencapai kesadaran meditatif antara lain : laa illa ha illallah (Tiada Tuhan Selain Allah) atau astaghfirullah-al-adzim (Aku berlindung kepada Allah).
Di bawah ini adalah karakteristik-karakteristik pengalaman mistis yang dapat ditemukan pada beberapa literatur (lihat James, 1902; Maedow dan Kahoe, 1984, Spilka, 1991; Stace, 1966)
Petama, pengalaman mistis mempunyai kualitas neorik. Artinya, bahwa pengalaman itu tidak hanya berupa pengalaman emosional saja di mana orang merasakan keterdekatan dengan Tuhan.
Kedua, pengalaman mistis tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, sehingga pengalaman mistis sulit dideskripsikan secara verbal seutuhnya.
Ketiga, pengalaman mistis mempunyai kualitas kesatuan (quality of unity). Artinya, bahwa orang yang mendapatkan pengalaman mistis dapat merasakan keutuhan dan kesatuan segala sesuatu.
Keempat, pengalaman mistis adalah sebuah pengalaman yang nyata (real).
Kelima, pengalaman mistis mempunyai unsur keterlepasan dengan dimensi ruang dan dimensi waktu. Keterlepasan dengan dimensi ruang terjadi ketika orang merasa bahwa dia tidak lagi berada di tempatnya saat itu.
Keenam, pengalaman mistis mempunyai kualitas paradoksal. Artinya, bahwa orang yang berada dalam pengalaman mistis sering membuat pertanyaan yang kontradiktif, tetapi dapat diterima dengan logis.
Ketujuh, pengalaman mistis adalah bersifat pasif. Artinya bahwa orang yang mendapatkan pengalaman mistis tidak mau mengklaim bahwa apa yang diperolehnya merupakan hasil dari usahanya, melainkan karunia dari Tuhan.
Dalam berbagai riwayat, mereka diceritakan mempunyai pengalaman mistis sebelum mereka mengubah kehidupannya mereka sendiri maupun mengubah masyarakat di sekitarnya (Jones, 1937; Clark, 1958). Orang biasa dapat juga mencapai kondisi terebut, baik melalui usaha ritual yang sungguh-sungguh maupun dengan melaksanakan praktik meditasi atau yang lain sesuai dengan tradisi agama masing-masing.
3.      Amaliah Dzikir dan Transformasi Religius
Berkaitan dengan amalan dzikir yang dilaksanakan dengan menggunakan teknik khusus yang mirip dengan meditasi. Dzikir dengan cara ini mempunyai kekuatan yang besar yang dapat mengarahkan terjadinya transformasi religius. Menurut Trimingham (1971), dzikir merupakan inti dari mistisisme dalam Islam. Penyebutan nama Allah secara berulang-ulang dianggap sebagai suatu cara untuk membersihkan jiwa dan menyembuhkan penyakit-penyakit di dalamnya.
Selama proses penyucian diri dan perjalanan mendekatkan diri kepada Allah, orang yang melaksanakan dzikir sering mendapatkan pengalaman-pengalaman mistis atas pengalaman Altered State of Consciousness (ASC), yaitu suatu bentuk kesadaran yang berubah, yang berbeda dengan kesadaran orang normal pada umunya.

C.     Kasus dan Analisa
1.      Kasus
Pengalaman transformasi religius yang dibahas dalam kasus ini merupakan hasil mini riset tentang peningkatan religiusitas seseorang dalam suatu keluarga yang tidak religius. Akan tetapi lambat laun, seseorang ini mampu membawa pengaruh baik terhadap keluarganya. Terbukti dari tergeraknya keluarga untuk mengikuti kegiatan keagamaan di kampung, seperti pengajian selapanan, yasinan setiap malam jumat yang dulunya tidak peduli dengan hal seperti itu. Seseorang yang diteliti adalah perempuan usia 24th, dari empat bersaudara. Dan pada tanggal 20 November 2011 dia menikah dengan seseorang yang telah menjadi pilihannya. Dalam penelitian ini saya mewawancarainya di Masjid seusai solat magrib.
Dia menggambarkan masa kanak-kanaknya sebagai seorang anak yang tidak peduli dengan ajaran agama Islam. Karena dari orang tua dan kakak-kakaknya tidak ada yang memberi bimbingan. Untuk solat pun boleh dikatakan jarang. Ketika SMP dia mengatakan bahwa teman-teman SMP-nya nakal. Dia tidak suka dengan keadaan itu, sekolah ditempat yang nakal. Dia mencoba mencari kenyamanan saat itu, dan ketika di sekolah ada suatu acara ESQ, entah tidak tau kenapa, dia merasa kecil dan dihantui rasa gelisah, tetapi di sisi lain dia merasa tenang. Hanya bisa menangis dan memikirkan apa yang sedang dia alami.
Sepulang dari sekolah dia merenungkan itu, dan sesuatu terjadi lagi saat di masjid menyalakan lantunan qiroah. Kata dia bergetar hatinya dan ingin bisa membaca quran seperti itu. Dia mulai tergerak untuk belajar mengaji dan solat dengan benar setelah kejadian itu. Karena sebelumnya belum bisa mengaji dengan benar, hanya sebatas hafalan saat duduk di sekolah dasar. Solat pun bisa hanya sekedar praktik dan lupa-lupa bacaannya. Selain itu karena faktor keluarga yang tidak banyak tau tentang agama dan lingkungan masyarakat yang memberi banyak pengaruh yang mendorong dirinya ingin mendalami agama sendiri. Dalam keadaan ini dia mulai mencari buku cara solat di perpustakaan SMP. Secara diam-diam dia belajar sendiri. Menjelang ujian kelas 3 SMP dia merasa bahwa solat dan berdoa dapat memberi ketenangan. Dia merasa ada ketenangan dan merasa diberi jalan, doanya terkabul.
Dari sinilah dia mulai berminat untuk memakai jilbab dan ingin melanjutkan sekolah di sekolah islam. Dia diterima di SMK Ma’arif 1 Salam, jurusan tata busana. Dia mengatakan bahwa teman kelompok di sekolah kebanyakan dari pondok pesantren. Dari sini dia belajar agama, belajar dengan teman kelompok dan pada akhirnya karena lingkungan keluarga yang kurang bisa memberi apa yang dia inginkan, dia memutuskan untuk tinggal di pesantren. “mboten ngertos alasane, pokok’e pengen mawon”. Maksudnya adalah tidak tahu apa alasannya, yang penting ingin melakukan apa yang menjadi keinginan hatinya. Dia mengatakan ada sesuatu yang ingin dirubah dalam kehidupannya.
Setelah dua minggu tinggal di pesantren, terlontar dari pembicaraannya “atiku ayem”. Maksudnya yakni hatinya tentram, setelah tinggal di pesantren. Karena ada yang membimbing mengaji dan beribadah yang lain. Namun belum ada satu bulan dia berubah fikiran. Dia merasakan banyak aturan yang mengekang, yang membuat dia tidak nyaman belajar agama di pesatren itu lagi. Genap satu bulan dia memutuskan untuk kembali tinggal dirumah. Namun sudah ada perubahan yang saya lihat dari dirinya. Sudah memakai rok dan berjilbab. Keinginan dia keluar tetap ada komitmen bahwa tetap ingin belajar agama di rumah. Sehabis solat magrib di masjid, selalu meminta bimbingan ustazah di kampung saya untuk mengajari mengaji. Karena ingin bisa seperti yang lain. Dia mengatakan bahwa tidak malu belajar mengaji iqro’ dengan terbata-bata, justru dia malu kalau tidak bisa. Walau kadang-kadang masih aja ada gangguan. Dia menuturkan seperti itu.
Saya mencoba bertanya kepada ustazah, tentang dia. Ustazah mengatakan bahwa dia mempunyai kemauan keras walau terkadang masih banyak kendala. Sering meminta solusi dan nasehat. Ustazah hanya menyarankan untuk solat malam, salalu berdoa dimanapun dan tetap sabar, “insyaallah ono dalane” kata usatazah (Insyaallah akan ada jalan).  Sering cerita kepada ustazah tentang kepribadiannya dan hubungan dengan orang tuanya. Dia mengatakan kepada ustazah bahwa sering pingsan karena banyak pikiran. Salah satunya pikiran mengenai keluarganya yang kurang religius. Menurut saya ini merupakan faktor yang saya dapat dari keluarganya walau tidak langsung menanyakan langsung kepada keluarganya.
Dengan penjelasan ustazah tentang isi hati dia, saya jadi mengerti. Kedekatan ustazah dengan dia dan mencoba memberikan solusi kepadanya memberikan perubahan. Orang tua yang sudah mulai menjalin komunikasi dengan ustazah merupakan awal pencerahan. Orang tua dan keluarganya kini lama-lama berubah menjadi seseorang yang peduli dengan agama lewat anaknya tersebut dan atas bantuan ustazah. Kini orang tuanya sering mengikuti kegiatan keagamaan di kampung.  Dan diapun kini sudah lancar memaca al-quran.
2.      Analisa
Analisis dari kasus tersebut, sesuai dengan teori transformasi religious yang mengatakan bahwa perubahan dapat dimanifestasi oleh adanya peningkatan penghayatan keagamaan orang-orang yang semula tidak peduli agama atau tidak percaya dengan agama (agnostic) menjadi orang yang sangat religius. Serta adanya perubahan atau peningkatan komitmen dan keyakinan beragama dalam konteks agama yang sama (James, 1902; Byrnes, 1984; Ullman, 1988, 1989).
Dari analisis tersebut dapat dilihat bahwa pengalaman meditasi (dzikir) pada setiap partisipan mampunyai keunikan sendiri-sendiri. Tetapi tampak juga beberapa kesamaan. Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai proses terjadinya transformasi religius ada empat proses transformasi. Pertama, pra-dzikir yang mencakup kehidupan religi objek dari masa kanak-kanak sampai ke kontak pertama mereka dengan kelompok pengajian. Kedua, kontak awal dengan pengajian yang meliputi pengalaman-pengalaman dan peristiwa yang mengawali bergabungnya objek ke dalam kelompok pengajian dan mempraktikkan ajaran dzikir. Ketiga, pengalaman dzikir di mana objek melaksanakan secara intensif dan melaporkan banyak pengalaman religius terkait dengan praktik dzikir. Keempat, pembaharuan kehidupan religius yang mencerminkan religius onjek yang baru. Dari ke empat analisis dari buku psikologi dzikir (Subandi, 2009), saya akan menguraikan terkait kasus diatas.
a.       Episode Pra-Dzikir
Dalam kasus di atas mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaan shalat dan mengaji, dia hanya sebagai formalitas saja, tanpa merasakan hubungan dengan Allah. Motif melaksanakan ritual agama pada umumnya bersifat egosentris.
b.      Episode Kontak Awal dengan Pengajian
Objek sudah mengalami keterlibtan intensif dalam agama Islam, baik pada keterlibatan rasional (semangat dia untuk mempeajari agama Islam lebih dalam) maupun emosional (keterlibatan objek dalam agama Islam ditunjukkan pada keseriusan dalam melaksanakan Ibadah).
c.       Episode Pengalaman Dzikir
Dia mengalami pencerahan di mana dia berusaha belajar dan mendalami agama sendiri. Menemukan makna dasar dari ritual-ritual agama Islam. Didapatnya saat ESQ dan saat mendengar tilawah Quran hatinya bergetar. Pemahaman dia tentang ajaran agama semakin dia pahami.
d.      Episode Pembaharuan Kehidupan Religius
Setelah melaksanakan dzikir (doa, meditasi) dan mendapat berbagai macam pengalaman seperti di ponpes dan pengalaman yang lain menyatakan bahwa dia merasa lebih dekat dengan Allah. Dan pengaruh dirinya bagi keluarganya. Dia merasakan ada pertolongan Allah dan ada rasa bahwa doa-doanya terkabut.
Demikian analisis saya berkaitan dengan kasus yang saya angkat dari seseorang, tepatnya tetangga saya pada peningkatan religiusitasnya.

D.    Kesimpulan
Sudah dikemukakan di dalam kajian di atas bahwa fenomena fransformasi ini sejajar dengan proses perkembangan religius dari kehidupan yang belum matang menuju kearah yang lebih matang. Di sini objek banyak mengalami hubungan dekat dengan Allah. Namun perjalanan untuk menjadi lebih dekat dengan Allah ini mengalami suatu hambatan.  Salah satu hambatannya adalahgangguan makluk halus yang kadang diaggap  sebagai jin.
Tapi pada akhirnya hambatan dan godaan dalam transformasi religius, baik hambatan dari dalam maupun dari luar dirinya dapat diatasi oleh seseorang dangan cara melaksanakan dzikir (doa) terus menerus (istiqamah) dan menghadiri pertemuan-pertemuan jama’ah pengajian. Dukungan dan pengarahan dari orang lain, terutama yang lebih senior, sangat diperlukan agar orang tersebut tidak mengalami kesesatan.

DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin. 2010. Psikologi Agama. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Subandi. 2009. Psikologi Dzikir. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Thouless, Robert H. 1992. Pengantar Psikologi Agama. Jakarta : Rajawali Pers




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Loading...

Daftar Blog Saya

  • Fungsi Kepemimpinan - 1. Fungsi Kepemimpinan Secara operasional, fungsi kepemimpinan dapat dibedakan dalam lima fungsi pokok sebagai berikut:[1] a. Fungsi instruksi Fu...
    4 bulan yang lalu
  • FUNGSI LEMBAGA HUKUM ISLAM - A. PENGERTIAN LEMBAGA HUKUM ISLAM Sebelum masuk ke dalam pembahasan mengenai pengertian lembaga Islam, perlu di ketahui bahwa ada beberapa istilah yang ber...
    1 tahun yang lalu